Thursday, 10 June 2021

Perbedaan Endemi, Epidemi, dan Pandemi

Hingga tahun 2021, pandemi COVID-19 masih menerjang Indonesia. Kasus pertama kali COVID-19 terjadi di Wuhan, China pada 2019. Lalu, kenapa COVID-19 dikatakan pandemi?

Apa yang Membedakan antara Ketiganya?

Pada penyebaran suatu penyakit, ada beberapa tingkatan yang terjadi. Penyakit endemi berkembang menjadi epidemi. Jika penyebarannya meluas hingga seluruh dunia, maka itu disebut pandemi. World Health Organization (WHO) memutuskan COVID-19 sebagai pandemi global pada 11 Maret 2020. Namun, berjalan satu tahun, penyebaran COVID-19 masih belum berhenti. Pernyataan terbaru dari WHO bahwa COVID-19 sebagai penyakit endemik. Oleh karena itu, penyakit ini akan terus ada dan tidak sepenuhnya hilang.

Pengertian Endemi

Endemi adalah penyakit yang muncul dan menjadi karakteristik di wilayah tertentu, misalnya penyakit malaria di Papua. Contoh penyakit lainnya di Indonesia yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD). Penyakit ini akan selalu ada di daerah tersebut, namun dengan frekuensi atau jumlah kasus yang rendah.

Pengertian Epidemi

Epidemi terjadi ketika suatu penyakit telah menyebar dengan cepat ke wilayah atau negara tertentu dan mulai memengaruhi populasi penduduk di wilayah atau negara tersebut. Contoh penyakitnya ada Virus Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) pada 2019, flu burung (H5N1) di Indonesia pada 2012, SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) pada tahun 2003, penyakit Ebola di Negara Afrika.

Pengertian Pandemi

Pandemi adalah wabah penyakit yang terjadi serempak dimana-mana, meliputi daerah geografis yang luas (seluruh Negara/benua). Dengan kata lain, penyakit ini sudah menjadi masalah bersama bagi seluruh warga dunia. Contoh penyakit pandemi: HIV/AIDS dan COVID-19. Influenza juga dahulu pernah menjadi penyakit kategori pandemi dan menyebar seluruh dunia.


Sumber: http://ners.unair.ac.id/site/index.php/news-fkp-unair/30-lihat/808-bedanya-endemi-epidemi-dan-pandemi


Wednesday, 2 June 2021

Inilah Perbedaan Vaksin Sinovac dan AstraZeneca!

Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac

Perbedaan yang paling mendasar teridentifikasi dari kandungannya. Vaksin Sinovac menggunakan virus tidak aktif (inactivated virus), sedangkan vaksin AstraZeneca menggunakan vektor adenovirus simpanse.

Adapun perbedaan lain dari kedua vaksin ini, antara lain:


1. Jadwal pemberian vaksin

Perbedaan pada jadwal pemberian vaksin pertama dan kedua. Untuk AstraZeneca, jaraknya adalah 8–12 minggu, sedangkan Sinovac jaraknya 2–4 minggu.

Meski demikian, dosis yang direkomendasikan oleh WHO untuk kedua vaksin ini adalah sama, yaitu 0,5 ml untuk setiap kali suntik dan diberikan sebanyak 2 kali untuk setiap orang.

2. Penyimpanan dan distribusi vaksin

Untuk vaksin AstraZeneca, maksimal lamanya penyimpanan adalah 6 bulan di dalam lemari pendingin dengan suhu 2–8 derajat Celsius.

Jika dikeluarkan dari lemari pendingin, vaksin ini dapat bertahan pada suhu 2–25 derajat Celsius selama maksimal 6 jam. Vaksin ini tidak boleh dibekukan dan harus digunakan dalam waktu 6 jam setelah dibuka.

Sementara itu, vaksin Sinovac bisa disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 2–8 derajat Celsius dan dapat bertahan hingga 3 tahun. Vaksin ini juga harus terhindar dari paparan sinar matahari langsung.

3. Efektivitas vaksin

Perbedaan vaksin AstraZeneca dan vaksin Sinovac selanjutnya terletak pada nilai efikasi atau efektivitasnya. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa efektivitas vaksin AstraZeneca dalam mencegah COVID-19 adalah 76%, sedangkan vaksin Sinovac sebesar 56–65%.

Meskipun ada perbedaan dari segi efektivitasnya, baik vaksin AstraZeneca maupun Sinovac terbukti dapat menurunkan risiko munculnya gejala berat COVID-19, mencegah perburukan kondisi, dan mempersingkat durasi rawat inap apabila terinfeksi virus Corona.

4. Efek samping vaksin

Efek samping vaksin AstraZeneca dan Sinovac secara umum sama, yaitu nyeri di lokasi suntikan. Selain itu, ada beberapa efek samping yang juga dapat muncul, yaitu:

  • Rasa lelah
  • Diare
  • Nyeri otot
  • Demam
  • Sakit kepala

Efek samping ini bersifat ringan dan dapat hilang dalam 1–2 hari. Untuk mengatasinya, Anda dapat mengonsumsi paracetamol, ibuprofen, aspirin, atau antihistamin, sesuai efek samping yang dirasakan.

Namun, jangan mengonsumsi obat-obatan tersebut sebelum vaksinasi dengan tujuan untuk mencegah efek samping.

Meskipun jarang, bisa juga muncul beberapa efek samping vaksin yang tergolong berat, di antaranya:

  • Peradangan di sekitar sumsum tulang belakang
  • Anemia hemolitik
  • Demam tinggi

Jika Anda mengalami efek samping berat setelah menerima vaksin COVID-19, segera periksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan.

Terlepas dari risiko terjadinya efek samping tersebut, vaksin AstraZeneca dan Sinovac telah dinyatakan memenuhi standar internasional oleh WHO, baik dalam proses pembuatan, keamanan, maupun efikasinya.

Oleh karena itu, jika Anda telah mendapatkan giliran untuk mendapat vaksin COVID-19, apa pun jenis vaksinnya, segeralah lakukan vaksinasi. Semakin cepat semua orang mendapatkan vaksin, semakin cepat pula pandemi ini usai.

Kenapa Pesawat Bisa Terbang? Ini Penjelasannya!

Dilansir  kompas.com , sistem kerja pesawat menggunakan empat macam gaya. Di antaranya gaya angkat (lift), untuk mengangakat pesawat ke atas...